Bioetanol berarti bahan bakar yang diekstrak dari tanaman termasuk tebu dan jagung. Bahan bakar itu dibuat melalui proses fermentasi dengan glukosa dari saripati tanaman. Bioetanol bisa dicampuri dengan bensin atau bisa digunakan sendiri sebagai bahan bakar untuk mobil. Bersama dengan biodiesel, bioetanol menjadi salah satu sumber energi utama yang bisa diperbarui. Berbeda dengan bioetanol yang diekstrak dari glukosa saripati tanaman, maka biodiesel diproduksi dari ekstrak tanaman kelapa sawit.
Salah satu keunggulan utama sumber energi yang bisa diperbarui seperti bioetanol dan biodiesel adalah karena diproduksi dari tumbuhan, sehingga emisi gas yang mengakibatkan pencemaran polusi serius amat kecil jika dibanding bahan bakar fosil.
Salah satu keunggulan utama sumber energi yang bisa diperbarui seperti bioetanol dan biodiesel adalah karena diproduksi dari tumbuhan, sehingga emisi gas yang mengakibatkan pencemaran polusi serius amat kecil jika dibanding bahan bakar fosil.
| |
Walaupun memiliki keunggulan seperti itu, bioetanol menghadapi krisis karena bahan bakar dari tanaman itu dianggap sebagai salah satu penyebab utama kenaikan harga biji-bijian di dunia. Karena biji-bijian seperti jagung digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi energi, maka permintaan meningkat drastis sehingga menaikkan harga biji-bijian di seluruh dunia.
Karenanya, bioetanol yang populer sebagai energi alternatif masa depan itu dianggap menjadi sumber gangguan yang menghabiskan cadangan bahan pangan yang dibutuhkan manusia. Untuk menuntaskan masalah itu, para ilmuwan belakangan ini mulai mencari jalan untuk memproduksi bioetanol dari kayu dan rumput laut.
| |
Pemerintah Korea Selatan merencanakan untuk memperkenalkan bioetanol ke pasar dalam tahun ini. Penelitian telah dilaksanakan selama dua tahun dari Agustus 2006. Tahap pertama kajian itu meliputi tes mutu dan pembangunan infrastruktur, sedangkan tahap kedua mencakup uji coba operasi pompa bensin khusus bioetanol.
Dari operasi 4 stasiun pompa bensin uji coba di seluruh pelosok negeri, hasilnya menunjukkan bahwa bioetanol yang dikembangkan oleh teknologi swasembada itu aman untuk digunakan di Korea.
Baru-baru ini, pemerintah memperkenalkan produk bioetanol ‘E3’ dengan komposisi 97 % bensin dan 3 % bioethanol, dan “E5” yang mencampurkan 5 % bioetanol. Pemerintah merencanakan untuk meningkatkan rasio campuran bioetanol sebesar 0,55 persen setiap tahun. Brazil dan Swedia sekarang adalah produsen bioetanol utama dunia. Kedua negara itu menggunakan “E85,” yakni campuran 15 % bensin dan 85 % bioetanol. Dibanding kedua negara itu, rasio campuran bioetanol Koera masih sangat rendah. Kalangan industri perminyakan Korea secara keras menolak penggunaan bioetanol, dengan alasan efisiensi ekonominya rendah dan biaya infrastruktur yang sangat mahal.
| |
Teknologi terbaru yang dikembangkan oleh lembaga riset kehutanan Korea yang memproduksi bioetanol ramah lingkungan dari kayu secara massal, diharapkan bisa mengurangi biaya produksi dan biaya energi. Teknologi itu menggunakan cara efisien yang memisah-misah kayu pohon dengan glukosa hanya dalam waktu satu menit. Dengan teknologi itu, Korea akan bisa meningkatkan daya saing terhadap negara pesaing, dan juga bisa menghemat devisa sekitar 30 juta dolar setiap tahun dari penggantian dua persen konsumsi bensin dengan bioetanol.
Para pakar energi mengatakan biometanol dari pohon juga bisa mengurangi CO2. Apakah teknologi produksi bioetanol terbaru ini akan bisa ikut andil untuk mengurangi harga biji-bijian internasional?
Mudah mudahan teknologi yang dikembangkan Korea itu akan dapat membantu upaya tersebut.